Polhukam

Zulkifli Hasan: Mudah Diadu Domba, Anak Bangsa Hanya Kebagian Nasi Kotak

PARLEMENTARIA.COM– Bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dengan mengorbankan tidak hanya harta benda tetapi juga nyawa. Tidak sedikit harta benda habis dan nyawa melayang untuk mengusir penjajah dari wilayah nusantara.

Namun, ungkap Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan Indonesia terlambat meraih kemerdekaan itu dibandingkan dengan negara-negara di Amerika Latin. Penyebabnya tidak lain karena sesama anak bangsa mudah diadu domba. Dan, hal tersebut dimanfaatkan penjajah untuk tetap bertahan negara kaya akan hasil alam ini.

Itu dikatakan Ketua MPR RI ketika menjadi nara sumber dihadapan sekitar 400 peserta Silaturahmi dan Musyawarah Nasional (Munas) Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) di Wisma Soegondo Djojopoespito PP PON Kemenpora, Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (20/12).

“Bangsa ini lama berjuang untuk meraih kemerdekaan karena kita mudah diadu domba dan dipecah belah. Hal tersebut dimanfaatkan pihak asing untuk mengeruk kekayaan alam yang begitu banyak di nusantara ini,” kata Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Wakil akyat dari Provinsi Lampung itu mencontohkan sejumlah bukti anak bangsa ini mudah diadu domba dan dipecah belah. “Antar umat beragama diadu, antar suku diadu dan dibuat tidak akur. Satu agama saja anak bangsa ini juga diadu seperti Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan banyak contoh lainnya.”

Akibatnya, lanjut anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, anak bangsa ini disibukan dengan pertengkaran dan kekayaan Indonesia sudah dibawah asing ke negara mereka.

Lihat saja, jelas dia, mana ada anak bangsa yang mempunyai tanah luas seperti zaman dahulu. Demikian pula dengan yang lainnya. “Kebon kelapa sawit sudah menjadi milik asing, tambang sudah dikuasai asing. Anak bangsa tinggal menjadi kuli di negeri sendiri.”

Karena itu, mantan Menteri Kehutanan ini, bangsa Indonesia harus maju seperti juga dengan lain. Untuk mengejar ketinggalan itu, satu-satunya jalan adalah kuasa ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kalau kita mampu menguasai keduanya, ke depan kita akan mampu bersaing dengan asing. Jangan puas hanya dengan nasi kotak, sementara kekayaan melimpah dinikmati oleh asing.”

Bahkan pada kesempatan itu, Ketua MPR sempat bertanya apakah Menteri Agama datang ke acara Forum Dai Muda ini. “Menteri agama kan harusnya datang. Ini kan tugasnya beliau. Di Indonesia agama dan politik harus berjalan seiring.”

Artinya, agama dan politik tidak bisa berjalan sendiri-sendiri seperti yang pernah disampaikan salah satu petinggi negeri ini. “Tidak mungkin Indonesia meraih kemerdekaan tanpa ulama dan umat Islam karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah pemeluk Islam”.

Walau demikian, Islam sebagai mayoritas tidak boleh menjadi tirani, “Islam itu harus Rahmatan Lil ‘Alamin. Hidup berdampingan dengan pemeluk agama lainnya. Kita bangsa Indonesia memang berbeda-beda. Beda suku, beda agama dan beda adat istiadat. Tapi, berbedaan itu tentu harus dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” demikian Zulkifli Hasan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top