Polhukam

MPR RI: Indonesia Tak Pernah Maju Jika Anak Bangsa Tidak Amalkan Pancasila

PARLEMENTARIA.COM– Indonesia tidak akan pernah maju jika seluruh anak bangsa tidak menegakkan nilai-nilai Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kata Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan saat menerima para ‘Motivator’ di Ruang Delegasi MPR RI Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (21/12) siang, Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara harus menjadi pandangan, pegangan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Tanpa Pancasila, dan kita masih terus mempersoalkan SARA, padahal sudah 72 tahun merdeka dan 20 tahun reformasi, Indonesia tak akan pernah maju,” kata Zulkifli Hasan didampingi Eko Patrio dan sejumlah anggota MPR dari unsur DPR dan DPD RI termasuk Sekjen MPR RI, Ma’ruf Cahyono.

Sementara itu dari pihak ‘Motivator’ yang hadir tampak Hermawan Kertajaya, Tung Desem Waringin, Asmanadia, Ippho Santosa, Elly Risman dan Bong Chandra. Mereka datang ke MPR RI didamping Eko Patrio yang juga anggota Komisi X DPR RI.

Diakui Zulkifli Hasan, memang ada kemajuan pembangunan yang dicapai oleh pemerintah. Contohnya Otonomi Daerah (Otda), perimbangan keuangan pusat dan daerah, infrastruktur. Juga banyak orang yang semula bukan siapa-siapa, saat ini menjadi pejabat negara.

“Saya dari guru madrasah menjadi Ketua MPR RI, Pak Jokowi dari pedagang mebel kini menjadi Presiden RI, Eko Patrio jadi anggota DPR, dan lain-lain. Semua ini berkat reformasi. Tanpa reformasi tak mungkin saya bisa duduk di MPR RI. Jadi, saya sebagai muslim sangat bersyukur atas kemajuan ini.”

Namun, kata Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) ini, masih banyak kekurangan. Yang paling parah adalah kesenjangan sosial antara orang kaya dengan masyarakat miskin. “Kalau hal ini dibiarkan berbahaya. Di negara Panxasila tidak boleh hal seperti itu terjadi.”

Selain kesenjangan sosial, lanjut Zulkifli Hasan, juga masalah korupsi yang semakin marah. Tidak sedikit pejabat negara termasuk kepala daerah yang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Yang paling parah dan sangat berbahaya adalah ketidakpercayaan antar kelompok masyarakat (distrust), sehingga kepentingan kelompok menguat.
Kebhinnekaan mulai memudar, saling hujat, sebar hoax, dan sebagainya.”

Padahal, lanjut wakil rakyat dari Dapil Provinsi Lampung tersebut, masalah kebinekhaan, pancasila dan NKRI tersebut sudah diselesaikan oleh para pendiri bangsa 72 tahun silam. “Waktu itu pendiri bangsa sepakat, Indonesia ini bhinneka tunggal ika. Maka yang tidak sama tak perlu disamakan,” jelas dia.

Para pendiri bangsa ini menurut Zulkifli, sangat memahami kondisi bangsa Indonesia yang sangat beragam ini, dan inilah yang justru akan menjadi kekuatan.

“Jadi, ego kelompok muncul lagi ini menjadikans banyak kepala daerah dan anggota legislatif mempunyai orientasi yang berbeda-beda, dan konsekuensinya selama satu bulan ada 6 pejabat yang ditangkap KPK,” kata Menteri Kehutanan 2009-2014 ini.

Dengan demikian pemahaman, kesadaran dan pengamalan terhadap 4 pilar ini harus terus ditingkatkan. Zulkifli mengibaratkan 4 pilar itu sebagai vitamin atas daya tubuh yang kuat.

“Kalau daya tahan tubuhnya kuat, maka pengaruh penyakit apapun dari luar tak akan membuat badan sakit,” ungkap anggota Kabinet Indonesia Bersatu IKIB) jilid II pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

Hanya saja, lanjut dia, dalam mensosialisasikan Empat Pilar ini MPR RI hanya sendirian, sehingga tak mungkin berhasil. Ini merupakan gerakan bagus. Tapi, untuk keberhasilan sosialiasinya, sulit tanpa melibatkan institusi pemerintah yang lain.

“Setelah berembuk dengan Presiden Joko Widodo, lahirlah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang dipimpin oleh Yudi Latief. Jadi, sistem apapun tak ada yang cocok dengan Indonesia, kecuali Pancasila,” demikian Zulkifli Hasan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top