Polhukam

Fahri Hamzah: Hak Veto AS Tunjukan Kekuatan di PBB Tak Seimbang

PARLEMENTARIA.COM – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyaksikan veto yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap darft resolusi menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel yang dilakukan Negara Paman Sam itu semakin gamblang menunjukan kekuata di PBB tidak imbang.

“Ada kekuatan yang selalu melawan agenda masyarakat internasional untuk menciptakan perdamaian yang sesungguhnya. Di sini saya selalu mengatakan, ada peluang bagi Indonesia untuk terlibat secara lebih dalam melakukan reformasi terhadap keanggotaan PBB, khususnya Dewan Keamanan (DK),” kata Fahri lewat voicemail yang diterima wartawan, Selasa (19/12/2017).

Fahri Hamzah mendesak agar Indonesia harus mengajukan proposal tentang negara-negara baru yang harus menjadi anggota DK PBB. Dalam hal ini, Turki dan Indonesia dapat sebagai alternatif, khususnya Indonesia karena menjadi negara muslim terbesar dunia.

“Seharusnya klaim negara muslim terbesar di dunia ini, dapat menyebabkan masuknya Indonesia ke dalam atau menjadi anggota tetap DK PBB. Karena dengan itu, maka umat Islam akan selalu punya wakil. Tapi, pertanyaannya adalah apakah Indonesia siap berteriak sekeras itu. Itu yang kita harapkan,” ucapnya.

Indonesia, kata Fahri lagi, harus lebih berani berteriak menyuarakan ketidakadilan global, yang sekarang ini menyebabkan konflik dimana-mana di seluruh dunia. Peluang ini harus ditangkap, daripada terus melakukan diplomasi kecil-kecilan yang tidak akan merubah wajah dunia.

“Lebih baik kita melakukan suatu diplomasi lompatan yang menyebabkan Indonesia punya peran yang besar dihari-hari mendatang. Itu yang saya bilang, sesuai dengan besarnya bangsa Indonesia, besarnya penduduk yang diwakilinya dan besarnya harapan dunia kepada kita,” harapnya.

Karena sekarang ini, Fahri melihat kalau Indonesia belum melakukan sesuatu yang sudah menjadi levelnya, yakni ibarat petinju Indonesia ini ada dikelas berat, tetapi jangan isu yang dihadapi isu-isu kelas ringan terus.

“Sekali-kali main lah isu kelas berat. Kenapa Iran bisa bermain di isu kelas berat? Kenapa Qatar yang negara kecil itu bisa juga bermain dalam isu kelas berat? Kenapa kita tidak main isu kelas berat? Dan karena itu, sebagai negara berpenduduk besar nomor empat di dunia, penduduk muslim nomor tiga di dunia, atau penduduk muslim terbesar di dunia dan penduduk negara demokrasi nomor tiga di dunia, maka layaklah kita mengambil peran-peran yang besar, dan signifikan. Itu yang sesungguhnya ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia khususnya umat Islam,” tutup Pimpinan DPR Korkesra ini. (esa)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top