HeadLine

H Anhar Nasution: BNN Harus Maksimalkan Peran Masyarakat Cegah Peredaran Narkoba

PARLEMENTARIA.COM– Ketua Dewan Pimpinan Pusat Satuan Tugas Anti Narkoba (DPP SAN), H. Anhar Nasution mendesak Badan Narkotika Nasional (BNN) sungguh-sungguh dalam pemberantasan Penyalahgunaan Narkitika.

Soalnya, kata Anhar, saat ini peredaran narkoba tidak hanya terjadi di kalangan tertentu saja tetapi sudah merambah kesemua lapisan, termasuk siswa Sekolah Dasar (SD) sebagai generasi penerus bangsa.

Kalau ini dibiarkan, lanjut Anhar saat bincang-bincang dengan awak media usai acara Tasyakuran dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Sekretariat SAN, Minggu (3/12) malam, bukan tidak mungkin 10 tahun ke depan, Indonesia mengalami pemotongan generasi seperti pernah dialami Cina dan AS yg Sejak Tahun 1961 Lebih Mengedepankan Penegakan Hukum dgn Sangsi Keras tanpa pandang bulu termasuk bagi Pecandu sebagai korban Sehingga banyak warga negara Paman Sam itu menjadi kaum hippies.

Kaum hippies, kata Anhar, cenderung hidup menyendiri tanpa memikirkan orang atau yang terjadi di sekitar mereka. Mereka keluar dari kehidupan formal, baik dari sistem kekeluargaan tradisional, pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Akhirnya Presiden Niksen yang membanggakan Perang melawan Mafia Narkoba akhirnya bertekuk lutut dan akhir lebih memilh Parenting Skill Sebagai Solusi pemberantasan Narkoba di Negara Nya.

Sebab itu, BNN tidak bisa lagi hanya melakukan Pola dengan memenjarakan para penyalahguna yang didalam nya termasuk Korban Narkoba. Jika kepada pengedar, bandar dan orang yg membekingi Penjahat Narkoba tersebut Silahkan Saja Namun ironis nya Banyak kita saksikan bandar dan Pengedar Narkoba tersebut bisa bebas berkeliaran dan bahkan yg sedang dalam tahanan pun bisa bebas melakukan kejahatan Tsb. Penjara bukan lah solusi terbaik bagi penyalah guna/ korban Narkoba. Dengan kondisi Lapas kita Saat ini yg hampir mencapai 80 persen penghuninya kasus narkoba Maka jangan Heran suatu saat Penjara akan dirusak dan bahkan dibakar oleh Tahanan Yg ngamuk karena Kebutuhan akan Narkoba tersebut berkurang atau Habis di dalam Lapas .

“Tangkap dan adili pemasok, bandar maupun pengedar. Ganjar pelaku dengan hukuman berat. Kalau perlu hukum mati. Khusus pemakai sebagai korban, bukan ditahan atau dipenjara, harus direhabilitasi,” kata wakil rakyat 2004-2009 ini.

Merehabilitasi pemakai sebagai korban, itu sesuai dengan perintah UU No: 35 tahun 2009 tentang Narkotika. “Pecandu atau korban bukan diganjar dengan hukuman penjara tetapi harus direhabilitasi.”

Dalam melakukan pencegahan, BNN sebagai lembaga yang memang ditunjuk dan diamanahkan untuk itu tidak bakal bisa bekerja sendirian. Apalagi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki BNN sangat terbatas.

Karena itu, BNN harus melibatkan masyarakat yg seperti pemuka agama, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan aparat Pemerintah ditingkat yg paling Bawah seperti RT, RW Guru2 PAUD dan Ibu2 PKK dgn memberikan bekal Pencegahan, BNN hendaknya belajar banyak dengan cara yang dilakukan negara Belanda maupun Portugal yang dinilai banyak pihak paling sukses mencegah warga negaranya dari ancaman bahaya narkoba,” kata Anhar.

Kedua negara itu, memberikan hukuman yang berat kepada pemasok, bandar dan pengedar narkoba, Namun kepada Penyalah guna untuk diri sendiri sebagai korban Mereka Sagat tegas dan jelas Harus di Rehabilitasi. maka Tidak heran kalau banyak penjara di Belanda kosong tanpa penghuni begitu pula di Portugal penurunan angka kejahatan Narkoba sangat Signifikan jelas Anhar.

Untuk itu, panti rehabilitasi baik milik Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) maupun yang dipunyai swasta harus dimaksimalkan untuk merehabilitasi para korban narkoba ini. Panti BNN yang ada di Lido, Sukabumi, Jawa Barat sudah pasti tidak cukup untuk menampung sekian banyak korban narkoba dari seluruh Indonesia.

Terkait seringnya sesama penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) narkoba diberbagai daerah tanah air berkelahi, bahkan sampai ada Lapas yang dibakar narapidana, Anhar menyebutkan, itu banyak disebabkan napi itu lagi sakaw karena tidak mendapatkan barang haram itu.

“Saya dapat informasi dari salah satu petinggi Lapas, setiap minggu sedikitnya 2 kg narkoba khususnya sabu dikonsumsi penghuni Lapas khusus narkoba. Bila barang haram itu tidak cukup, terjadilah keributan. Lapas tenang, itu berarti sedang banyak ‘barang’ di dalam Lapas,” kata dia.

Terkait masalah beredarnya Natkoba dalam Lapas, kata Anhar, hal itu tidak bisa dibiarkan. “Kementerian Hukam dan Hak Azazi Manusia (Kemenkum HAM) harus bertanggungjawab untuk membenahi bawahannya di Lapas. Kalau ini tidak dibenahi, janganlah mimpi bangsa ini bakal imun dengan narkoba,” demikian Anhar Nasution.(art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top