Polhukam

Jazuli: Tidak Boleh Ada Pihak Mendiskreditkan Ulama dan Umat Islam

PARLEMENTARIA.COM– Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa kemerdekaan Indonesia diraih tidak lepas dari peran dan kontribusi ulama maupun pesantren. Mereka menggerakan umat serta santri melawan penjajah.

Itu dikatakan Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Jazuli Juwaini dalam Dialog Kebangsaan dan Silaturahmi bersama Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) se-Kabupaten Serang di Kota Serang, Sabtu (11/11).

Para ulama ini tergabung dalam Forum Silaturahim Pimpinan Pondok Pesantren Kabupaten Serang (FSPP). Hadir dalam acara ini Wakil Bupati Serang untuk mewakili Bupati meresmikan acara. Juga tampak Ketua FSPP, KH Endang Daruquthni, Ketua MUI Kabupaten Serang, KH Rahmat Fathoni.

Juga hadir tokoh agama dan ulama seperti Ketua NU Kabupaten Serang KH Kholil Sayuti, Ketua LPTQ Dr. HM. Sabri Fayumi, Ketua IPHI Kabupaten Serang Drs. H. Kasyiful Qurob, M.Si, serta 250 Pimpinan Ponpes dan Ormas Islam se-Kabupaten Serang.

Menurut Jazuli, acara ini diselenggarakan dalam rangka silaturahim sekaligus ikhtiar untuk mengokohkan khidmat dan kontribusi ulama dan pesantren buat bangsa dan negara Indonesia.

Lebih jauh Jazuli mengatakan, begitu besar cinta ulama, santri dan umat Islam kepada negara ini sehingga tidak boleh ada pihak yang mendeskriditkan ulama, santri dan umat Islam sebagai anti-Pancasila serta anti-NKRI.

“Tidak boleh ada pihak yang mengklaim paling Pancasila, nasionalis dan paling NKRI. Bagaimana mungkin kita anti-Pancasila dan anti-NKRI sedangkan para pendahulu kita, para ulama dan santri pejuang yang memerdekakan republik ini. Ada Laskar Hisbulloh, Laskar Sabilillah, dan laskar-laskar ulama-santri lainnya,” kata wakil rakyat dari Dapil Provinsi Banten ini.

Untuk itu, kata anggota Komisi Satu DPR RI ini, kita para ulama, santri serta umat Islam harus berada di garda terdepan dalam mengawal dan menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini kita lakukan dengan kesadaran penuh bahwa umat Islam lah yang semestinya mewarisi bangsa ini.

“Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika adalah konsensus yang dirumuskan oleh tokoh bangsa termasuk tokoh umat Islam seperti KH. Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Muzakir (Muhammadiyah), juga ada Haji Agus Salim,” kata Jazuli.

Atas seluruh catatan peran dan kontribusi di atas, sudah selayaknya negara memberikan penghormatan dan apresiasi kepada para ulama dan pesantren dengan keberpihakan kebijakan negara serta mengokohkan perannya dalam pembangunan. Terlebih lagi, lanjut Jazuli, perkembangan dunia atau globalisasi, di samping kemajuan yang dibawanya, telah menggerus nilai-nilai luhur bangsa ini.

Budaya hidup yang makin liberal, pergaulan bebas, narkoba, kenakalan remaja, hingga ancaman terorisme dan radikalisme. Di sinilah peran ulama dan pesantren harus direvitalisasi kembali.

“Untuk itu silaturahim ini berkomitmen menghadirkan generasi Islam yang rahmatan lil alamin, jauh dari perilaku dan akhlak rusak atau tercela serta berkontribusi mencegah radikalisme maupun terorisme. Kita yakin, jika ulama dan para santri ini menjadi pemimpin dalam berbagai level, insya Allah bangsa ini akan lebih baik,” pungkas Jazuli.

Di akhir acara, Jazuli yang juga ulama dan muballigh membagikan buku yang ditulisnya berjudul “Ulama dan Pesantren Mewariskan Indonesia Merdeka.” Dalam buku ini dikupas peran dan kontribusi ulama dan pesantren sejak zaman kemerdekaan dan pembentukan pondasi negara Indonesia merdeka hingga perna-peran aktualnya masa kini. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top