Polhukam

Mahyudin: Perlu Solusi Tepat Kejar Ketertinggalan Bidang Pendidikan

PARLEMENTARIAA.COM– Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin meminta dunia pendidikan Indonesia harus diperhatikan. Soalnya, hasil riset Bank Dunia, dunia pendidikan Indonesia tertinggal 45 tahun dari negara maju. Khusus bidang science atau teknologi, Indonesia tertinggal 75 tahun.

Itu dikatakan Mahyudin sebelum membuka Round Table Discussion (RTD) di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (24/10). Acara yang digelar Lembaga Pengkajian MPR RI itu mengambil tema ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Pendidikan Nasional Menurut UUD NRI Tahun 1945’.

Acara ini dihadiri Pimpinan Lembaga dan Badan Pengkajian MPR RI, sejumlah tokoh antara lain Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Utusan Khusus Presiden untuk Dilog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin, dosen, guru dan mahasiswa serta pelajar.

Dikatakan, sudah 72 tahun Indonesia merdeka tetapi pendidikan di negeri ini tertinggal jauh dengan negara maju. Dari itu, berarti kalau berupaya mengejar ketertinggalan, mungkin sangat sulit. “Begitu kita kejar 75 tahun, negara lain sudah melompat 75 tahun ke depan. Karena itu, perlu solusi yang tepat untuk mengejar ketinggalan pendidikan Indonesia.”

Mengutip ucapan Bung Karno, Mahyudin memaknai kemerdekaan itu adalah sebuah jembatan emas menuju cita-cita. Salah satu cita-cita bangsa dalam bernegara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurut Mahyudin, ini menjadi tanggungjawab kita semua. Kalau harus dibandingkan zaman sebelum merdeka, tentu dalam konteks kekinian, kita sudah lebih lebih pintar secara kualitatif dan kuantitatif.

“Malah sebenarnya secara kuantitatif, kita sudah maju. Namun, secara kompetitif dengan negara lain, kita tertinggal jauh. Ini yang yang harus diselesaikan,” kata politisi senior Golkar Partai itu.

Pimpinan MPR berharap hasil diskusi ini bisa menghasilkan sebuah karya, sebuah pemikiran, gagasan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional Indonesia. Mahyudin mengaku, di lapangan masih banyak daerah yang fasilitas pendidikannya tidak memadai. Banyak anak didik karena miskin dia  tidak memiliki fasilitas atau tidak bisa mengakses fasilitas pendidikan yang baik.

Belum lagi soal Ujian Nasional (UN). Masalah disparitas kesenjangan fasilitas antara jawa dan luar Jawa, juga soal standarisasi mutu pendidikan nasional mesti dikaji dan dipikirkan kembali.

“Semua itu terkait dengan anggaran pendidikan nasional 20 persen yang lebih banyak terserap untuk gaji guru bukan untuk fasilitas pendidikan,” tegas wakil rakyat dari Dapil Kalimantan Timur ini.

Mahyudin berharap acara ini bisa menjadi inspirasi dan mendorong gagasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan guna mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang beriman, maju, unggul, mandiri dan berdaya saing dalam kancah sampai internasional. (art)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top