Kesra

Lemkaji MPR Akan Mengkaji Masalah Pendidikan

PARLEMENTARIA.COM – Lembaga Pengkajian (Lemkaji) MPR akan mengkaji masalah pendidikan dengan menghadirkan sejumlah pakar di bidang pendidikan dalam diskusi meja bundar (round table discussion) Selasa (24/10/2017), pekan depan.

Ketua Lembaga Pengkajian MPR Rully Chairul Azwar kepada pers, Jumat (20/10/2017) menyebutkan pakar pendidikan yang akan dihadirkan adalah semua bergelar profesor. Antara lain Arief Rachman, Anwar Arifin, AA. Mattjik, Satrio Brojonegoro, Unifah Rosyidi, Din Syamsuddin, Dede Rosada, Anita Lie dan Jahja Umar.

Rully tak memungkiri bahwa selama 72 tahun Indonesia merdeka, sudah banyak kemajuan yang dicapai di sektor pendidikan dan kecerdasan bangsa.

Namun demikian ulas Rully, tidak pula bisa dipungkiri masih banyak permasalahan di dunia pendidikan dalam capaian untuk meningkatkan kecerdasan bangsa belum sepenuhnya mewujudkan ideal yang diinginkan konstitusi.

“Harus jujur juga diakui, masih banyak masalah yang membuat tingkat daya saing kita di tingkat regional dan global masih belum cukup memuaskan,” kata Rully yang turut didampingi sejumlah anggota Lemkaji MPR.

Dia mengutik peringkat daya saing yang dirilils World Economic Forum (WEF) yang memperlihatkan posisi Indonesia yang menurun. Periode 2015-2016 posisi Indonesia di peringkat 37 dari 138 negara. Kemudian periode 2016-2017 menurun ke peringkat 41. “Peringkat Indonesia berada di bawah negara-negara serumpun, seperti Singapura di urutan 2, Malaysia 18 dan Thailand 32,” jelas Rully.

Kemudian dia juga menyebutkan data UNICEF tahun 2016 yang menunjukkan bahwa sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan. Sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dab 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Tidak berlanjutnya proses pendidikan ini, sebagian besar memang dipicu faktor ekonomi, namun juga hambatan-hambatan budaya yang membuat anak-anak Indonesia atau orang tuanya tidak tertarik pada pendidikan di sekolah,” kata Rully.

Kemudian di jenjang pendidikan tinggi, Rully mengutip data BPS Februari 2016 yang menunjukkan masih ada masalah mutu dan relevansi pendidikan tinggi.

“Sarjana yang menganggur pada Februari 2016 mencapai 695 ribu orang atau meningkat 20 persen dari tahun 2015 yang hanya 565 ribu orang. Dengan dasar itulah, kita melakukan pengkajian dengan topik ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Pendidikan Nasional Menurut UUD 1945,” jelas Rully. (esa)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top